Contoh Naskah Drama Tema Percintaan Untuk 10 Orang

Anda mungkin sedang membutuhkan contoh teks drama percintaan untuk 10 orang pemain. Jika benar, berikut ini adalah contoh naskah drama 10 orang tentang percintaan yang diharapkan bisa memberikan bahan referensi bagi Anda.

Judul drama : CintaKu Bawa Hingga Hembusan Nafas Terakhir
Jenis drama : Drama Sosial
Jumlah pemeran : 10 Orang

Penokohan :

1 Rubin : Kekasih Nina (seorang lelaki yang berkomitmen) 
2 Nina : Kekasih Rubin (wanita baik yang sangat mencintai Rubin)
3 Lisa : Wanita egois dan jahat
4 Diana : Wanita egois dan jahat
5 Maya : Wanita egois dan jahat
6 Jeni : Wanita egois dan jahat
7 Gita : Wanita egois dan jahat
8 Yuni : Wanita egois dan jahat
9 Rani : Kekasih Budi (memiliki kepribadian baik dan care sama temannya)
10 Budi : kekasih Rani (berkepribadian baik dan memiliki prinsip)

Sinopsis :

Rubin adalah sosok remaja berusia 20 tahun yang dikenal memiliki kepribadian sangat baik. Kepribadian Rubin seraya membuat Nina jatuh hati kepada Rubin. Mereka berdua pun akhirnya menyandang status sebagai sepasang kekasih. Namun, hubungan mereka tak ubahnya membangun mahligai ditengah badai.

Menjalin kisah cinta dengan Nina, Rubin sebenarnya juga diincar oleh sejumlah gadis, mereka adalah Lisa, Diana, Maya, Jeni, Gita, dan Yuni. Ke-6 gadis tersebut saling berebut sama lain untuk mendapatkan hati si Rubin meskipun pada dasarnya Rubdin hanya sayang sama Nina.

Skenario tek drama edegan pertama

Pada suatu ketika Rubin dan Nina sedang bertemu disebuah taman yang tak jauh dari rumah Nina. Mereka berdua sedang mengobrol layaknya sepasang kekasih yang tengah merasakan atmosfer asmara.

Rubin :
Terkadang cinta memang tak ubahnya sebuah misteri. Sulit dilogikakan, dan ia datang begitu saja tanpa ada alasan real mengapa rasa suka itu bisa tumbuh. Aku nggak tahu, mungkin kamu suka aku hanya sebatas bagian dari misteri cinta itu sendiri atau memang karena ada sesuatu berarti dalam diri ini.

Nina :
Cinta memang terlalu sulit untuk dilogikakan, karena cinta datang dengan sendirinya dan kehadirannya tak pernah bisa dipaksakan. Terlepas dari peliknya keberadaan cinta, bagiku kamu adalah sosok yang baik, santun, dan bertanggung jawab. Bagi aku, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi pemujamu.

Rubin :
Nin, kamu cantik, pinter, dan care terhadap orang lain. Memiliki kekasih seperti kamu merupakan sebuah kebahagian yang sungguh tak terhingga. Aku berharap hubungan ini akan tetap berlanjut hingga ke jenjang yang lebih sirus.

Nina :
Makasih, aku seneng banget mendengarnya. Tapi, jujur bagi aku justru kamulah sosok yang pinter. perhatian, dan tidak pernah membanggakan kelebihan yang kamu miliki. Aku sayang banget sama kamu, andai kamu memang benar-benar dilahirkan untukku sungguh kebahagiaan yang tak ternilai.

Rubin :
Aku juga sayang banget sama kamu. Aku berharap aku bisa menjadi yang terbaik buat kamu, bukan hanya untuk hari kemarin, dan juga bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk selamanya.

Nina :
Bin, aku pengen nangis! Aku seneng banget.. semoga perasaan ini tak akan pernah hilang sampai kita menghadap kepada-Nya.

Rubin :
Ya, aku juga seneng banget. Semoga ini akan terus begini selamanya. Nin, udah waktunya pulang nih..

Nina :
Ya, yuuk kita pulang...

Mereka bedua akhirnya bergegas, Rubin menghampiri motornya sementara Nina berjalan menuju rumahnya yang berjarak 100 meter dari taman itu.

Bagian II

Pada suatu hari ke-6 gadis itu bertemu dengan Rubin disebuah tempat. Lisa, Diana, Maya, Jeni, Gita, Yuni secara kebetulsan sedang kumpul bareng untuk suatu kegiatan dan pada saat yang bersamaan datanglah Rubin.

Lisa :
Eh.. kamu Bin.. seneng banget aku ada kamu disini? Emang lagi ngapain?

Rubin :
Oh,, aku lagi ada keperluan aja. Terus kalian disini berame-rame pada ngapain?

Diana :
Oh.. kami lagi ada acara sih.. bakal lebih asyik kalau ada kamu.

Maya :
Okey Bin, kamu disini aja ya.. jangan pulang lo!

Jeni :
Iya, kamu disini aja Bin sampai acara ini kelar.

Gita :
Bener Bin, awas kalau kamu pulang!

Yuni :
Sik asyik ada Rubin disini.

Rubin :
Ok deh aku disini kalau gitu.

Ke-6 gadis tersebut saling mencari kesempatan untuk mengajak Rubin bicara empat mata. Baik Lisa maupun teman-temannya saling lirik melirik untuk mencari celah dan mengajak Rubin bicara. Lisa akhirnya mendapatkan kesempatan yang ditunggu-tunggunya setelah ke-5 temannya tersebut harus pergi lantaran ada keperluan yang tidak bisa ditunda.

Lisa :
Bin, aku boleh nggak ngomong sesuatu sama kamu?

Rubin :
Tentu, emang ada apa?

Lisa :
Kamu sudah punya pacar belum?

Rubin :
Sudah, aku sudah punya pacar. Emang kenapa kok kamu nanya soal pacar? Kamu sendiri udah punya kan?

Lisa :
Belum, aku belum punya dan aku berharap pacar aku adalah kamu.

Rubin :
Ya, kamu jangan bercanda kenapa sih?

Lisa :
Nggak kok, aku serius. Aku suka sekali sama kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku?

Rubin :
Kan aku sudah bilang aku sudah punya pacar. Lagian masak kamu mau macarin orang yang sudah punya pacar.

Lisa :
Aku nggak peduli, pokoknya cuman kamu satu-satunya orang yang bsia buat aku seneng. Ayo dong Bin, kasih aku kesempatan.

Rubin :
Kamu cantik, pinter, tapi maaf aku kan udah punya pacar. Aku nggak mau menghianati dia, dan aku juga sayang banget sama dia.

Lisa :
Aku nggak mau tahu, yang jelas akau akan terus ngejar kamu.

Rubin terdiam tanpa kata setelah mendengar ucapan Lisa tersebut. Dan tidak lama kemudian Lisa harus pergi, sementara Dina datang. Diana dan Rubin pun akhirnya berdua saja karena teman mereka masih belum kembali.

Ini adalah momentum yang ditunggu-tunggu oleh Diana, sama seperti yang dirasakan oleh ke5 temannya.

Rubin :
Hai, giaman urusannya lancar-lancar aja kan?

Diana :
Ya, semuanya lancar-lancar aja kok. Makasih. Eha Bin aku sebenarnya ada sesuatu yang pengen ku omongin sama kamu.

Rubin :
Oya, apa emang? Ya udah nongong aja

Diana :
Mungkin apa yang pengen ku ucapkan ini sesuatu yang salah, tapi aku memang nggak bisa membohongi perasaanku. Bin, aku suka kamu.

Rubin :
Dengan wajah yang sangat terkejut Rubin pun menjawab. Maaf, mungkin kita bukan pasangan yang tepat. Aku sudah punya pacar, dan aku juga yakin akan ada lelaki yang lebih tepat buat kamu.

Diana :
Mendengar jawaban dari Rubin, Dina hanya terdiam tanpa kata. Matanya terus menatap Rubin seoalah-olah dia adalah sang malaikat yang buatnya merasakan sebuah keindahan yang luar bisa.

Ke-6 gadis tersebut akhirnya saling mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan Rubin secara empat mata. Lisa, Diana, Maya, Jeni, Gita, dan Yuni sudah mendapatkan momentum untuk mengutarakan isi hartinya kepada Rubin. Namun, semuanya ditolah oleh Rubin.

Bagian III

Sinopsis :

Budi adalah kekasih Rani. Rani adalah teman Diana semenjak mereka kacil. Apapun yang Diana alami dia selalu cerita kepada Rani.

Disebuah taman kecil Rani dan Budi sedang berduaan. Rani memberitahu Budi tentang apa yang dirasakan oleh Diana.

Rani :
Aku salut ama cowok yang namanya Rubin. Aku nggak tahu apakah orang yang berada disebelahku sekarang ini juga memiliki keteguhan hati seperti dia

Budi :
Budi tersenyum sambil berkata, oya? Emang siap Rubin? Terus kenapa aku harus disamain dengan dia?

Rani :
Diana dan ke-5 temannya jatuh hatu sama Rubin. Dan semuanya ditolak oleh Rubin lantaran dia sudah punya kekasih. Dinan sendiri tidak bisa menerimanya, dia tetap berusaha mengejar Rubin. Hal yang sama juga tetap dilakukan oleh ke-5 temannya.

Budi :
Terkadang masalah hati memang menjadi sesuatu yang sangat rumit. Tapi, terlepas dari itu kayaknya bukan sebuah hal yang bijak jik Diana tetap berharap pada Rubin sementara dia sudah punya kekasih. Aku nggak bisa disamakan dengan Rubin, tapi selama ini aku juga tidak pernah menghianati perkataanku. Aku bilang sayang kamiu, karena memang itulah yang aku rasakan.

Rani :
Makasih, ku sayang sama kamu. Aku nggak tahu, kenapa Diana seperti itu. Sepertinya ini bisa jadi maslah yang sangat serius untuk dia.

Budi :
Sebagai temannya, kamu harus bisa menyadarkan dia. coba kamu buka mata hatinya agar tidak terbenam oleh egonya.

Rani :
Ya, pastinya aku akan terus mencoba. Aku nggak mau dia salah arah.

Budi :
Yup, semoga saja dia bisa negerti .

Dalam berbagai kesempatan Rani terus menyadarkan Diana. Namun, kegigihannya untuk menyadarkan temannya tersebut tidak berhasil. Diana tertap kokoh pada kata hatinya untuk mendapatkan cinta si Rubin.

Bagian IV

Sinopsis :
Pada suatu hari Rubin mengajak Nina untuk bertemu disebuah objek wisata yang terlatak sekitar 15 KM dari rumah Rubin. Lewat sebuah panggilan telepon Rubin pun memberitahu niatnya kepada kekasih itu.

Rubin  (melalui telepon) :
Hi, honey.. lagi ngapain nih ? oya,kamu besok ada acara nggak?

Nina :
Eh.. kamu sayang.. aku abis nyapu ruang tamu, banyak debu sih. Nggak ada, emang kamu mau ngajak kemana?

Rubin :
Ya udah, kalau gitu besk aku mau ngajak kamu ke sebuah tempat yang indah sekali.

Nina :
Oya? Jadi nggak sabar deh.

Rubin :
Ok, besok aku jemput kamu jam 9 pagi dirumah kamu. Jangan lupa pamita sama ortu kamu ya? Ntar aku disangkat yang nggak2.

Nina :
Iyaaa... pasti, kuatir amat sih!

Rubin :
Ya udah sampai ketemu besok.. dah sayang,,,

Nina :
Ya, bye.. jaga diri baik2.

Bagian V

Sipnosis :

Rani tahu kalau Nina dan Rubin akan pergi bedua. Rani pun memberitahu hal tersebut kepada Diana. Kemudian Dina juga memberitahukan hal tersebut kepada teman-temannya. Ke-6 teman Diana, yaitu, Lisa, Diana, Maya, Jeni, Gita, dan Yuni lantas memiliki sebuah ide untuk mencelakai Nina.

Diana dan ke-6 temannya lantas mendatangi rumah Nina yang kala itu sedang tidak ada orang. Otak jahat Dinana dan teman-temannya akhirnya menemukan sebuah ide untuk mencelakai Nina. Melihat sepatu Nina yang berada diluar disamping pintu ditaruhnya seekor kala jengking. Sesudah itu mereka lantar pergi.

Hari yang ditungguh oleh Nina akhirnya Tiba. Keesokan harinya tepat jam 9 pagi Rubin datang menjemputnya dirumah. Usai make-up Nina lantas memakai sepatunya yang ada didepan rumah yang didalamnya terdapat seekor kalajengking. Nina pun akhirnya naik kemobil Honda Accord 94 milik Rubin.

Perjalanan mereka sudah hamir sampai. Objek wisata yang mereka tuju hanya tinggal berjarak sekitar 3 km lagi. Tiba-tiba Nina menjerit kesakitan sambil merebahkan bandannya ke pintu. Pintu mobil tersebut mengalami kerusakan sehingga dengan mudah bisa terbuka pada saat Nina merebahkan tubunya. Melihat Nina hampir terjatuh, Rubin pun lantas berusaha memberikan pertolongan dengan mengayunkan tangan kirinya ke kekasihnya tersebut. Nahas, Rubin hilang kendali dan mobil yang dikendarainya menabrak sebuah pagar pembatas jalan. Mobil itu terbalik dan mereka bedua akhirnya tewas seketika.

SELESAI 

Demikian contoh nasah drama untuk 10 orang dengan tema percintaan dimana pada ujung cerita kedua sijoli akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Semoga bermanfaat

Like / bagikan artikel :

Artikel terkait:

0 comments:

Post a Comment