Contoh Naskah Drama Remaja

Contoh dialog drama remaja - Adegan drama dengan tema seputar dunia keremajaan sering dipertontonkan, seperti halnya di lembaga pendidikan/sekolahan.

Buat anda yang sedanga mencari referensi contoh naskah drama remaja, dibawah ini contoh yang bisa anda gunakan sebagai materi pembelajaran.

Lampu menyala...

Didalam sesuatu rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak yana duduk memandang tv. Bu yana keluar dari kamar mandi.

Bu yana
Yana telah pulang, pak ?
Pak yana
Belum
Bu yana
( duduk di kursi meja makan ) bagaimana ini ? Telah tiga hari ia tidak pulang.
Pak yana
Kelak juga pulang
Bu yana
Telah tiga hari
Pak yana
Kelak juga pulang
Bu yana
Ya, namun belum juga pulang, walau sebenarnya telah tiga hari. Dia itu kan wanita.
Pak yana
( terus memandang tv ) anak kita
Bu yana
Iya, anak kita, namun ia wanita serta belum pulang tiga hari.

Pak yana
Kelak juga pulang sendiri saat bekalnya lari sudah habis.
Bu yana
Tidak segampang itu, pak, ia itu wanita !
Pak yana
Bila memanglah ia wanita, ia dapat pulang.
Bu yana
Namun belum…( menghentikan kata-kata, mencermati pintu keluar rumah )
Ada yang datang, kelihatannya itu yana, anak kita, pulang juga ia sesudah tiga hari tidak pulang.
Pak yana
Bukan hanya, tentu temannya datang melacak.
Bu yana
Tentu yana
Pak yana
Berani taruhan
Bu yana
Taruhan apa ?
Pak yana
Bila bukan hanya yana, lebaran th. Ini kita pulang ke rumah orang tuaku.
Bu yana
Namun th. Tempo hari sudah
Pak yana
Itu dikarenakan kau kalah taruhan
Bu yana
Ya tidak dapat, pikirkan didalam lima th. Ini kita tidak dulu pulang ke rumah orang tuaku.
Pak yana
Berani taruhan tidak ?

Bu yana
( bingung ) ehm…
Pak yana
Dengar langkah itu telah makin dekat.
Bu yana
Baik

Terdengar ketukan pintu. Bu yana buka pintu. Kecewa.

Tamu i
Permisi tante, yananya ada ?
Bu yana
Oh tak ada, dia belum pulang.
Tamu i
Belum pulang ? Pergi ke mana ya tante ?
Bu yana
Tante juga tidak paham tuh, kamu paham.kamu mengerti tidak ?
Tamu i
Ya, bila tahu saya tidak datang tante.
Bu yana
Iya juga ya. Hm, anda rekan sekolahnya ya ?
Tamu i
Bukan hanya tante, saya teman…
Pak yana
( memotong ) suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu.
Tamu i
Terima kasih om, saya mesti kembali pulang.
Pak yana
Mengapa buru-buru ?

Tamu i
Ada yang perlu buru-buru saya kerjakan
Bu yana
Bila buru-buru, mengapa melacak yana ?
Tamu i
Ya itu dia, tante. Dikarenakan yanalah saya mesti buru-buru ?
Pak yana
Masuk dulu janganlah buru-buru
Bu yana
Iya masuk dulu
Tamu i
Maaf tidak dapat, saya permisi dulu.

Bu yana menutup pintu. Duduk di area tv.

Pak yana
Siapa namanya ?
Bu yana
Siapa ?
Pak yana
Yang tadi ?
Bu yana
Rekan yana
Pak yana
Iya, rekan yana tadi namanya siapa ?
Bu yana
Bermakna th. Ini kita pulang ke rumah orang tuamu lagi ?
Pak yana
Jelas ! Siapa nama rekan yana tadi !

Bu yana
Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu telah makin tua, dia pingin lihat kita sekeluarga kan ?
Pak yana
Tidak dapat ! Kesepakatan sudah tercipta, tidak dapat dirubah. Bila terus dirubah, bagaimana menggerakkan kesepakatan itu serta untuk apa bikin kesepakatan bila tak ada kepastian untuk dikerjakan. Siapa nama rekan yana tadi ?
Bu yana
Tidak tahu.
Pak yana
Loh
Bu yana
Kok loh
Pak yana
Ya, loh, bagaimana barangkali anda tidak menanyakannya ?
Bu yana
Mengapa bukan hanya anda ?
Pak yana
Saya kan tengah nonton tv serta saya tidak tengah berhadapan segera dengannya.

Terdengar ketukan pintu.

Pak yana
Ada yang ketuk pintu, bukahlah.
Bu yana
Bagaimana bila yana ?
Pak yana
Ya terus di buka pintu kan ?

Terdengar ketukan pintu.

Bu yana
Bukan hanya itu, bila bukan hanya yana, perjanjian tadi batal.

Terdengar ketukan pintu.

Pak yana
Bukalah pintu itu, kasihan tamunya.
Bu yana
Bikin satu kesepakatan baru dulu.

Terdengar ketukan pintu.

Bu yana
( teriak ke arah pintu ) sebentar ya, lagi menanti kesepakan nih, sabar ya.
Pak yana
Ya telah, buka sana.
Bu yana
Kesepakatan ?
Pak yana
Yah !

Pintu terbuka. Bu yana senang. Pembicaraan di depan pintu masuk rumah.

Tamu ii
Kesepakatan apa tante ?

Bu yana

Ah, tidak. Anda siapa serta ada apa ? 
Tamu ii 
Saya temannya yana, tante, kebetulan saya tengah main di tempat sini. 
Bu yana 
Terus 
Tamu ii 
Ya, terus saya singgah. Dikarenakan kebetulan saya tengah main di tempat sini, lantas saya singgah kesini, tante. 
Bu yana 
Terus 
Tamu ii 
Ya, dikarenakan itu tante, hm, yananya ada ? 
Bu yana 
Lantas dikarenakan kebetulan main di tempat sini, anda singgah serta melacak yana ? 
Tamu ii 
Benar itu tante. 
Bu yana 
Dikarenakan kebetulan ? 
Tamu ii 
Sesungguhnya tidak tante. 
Bu yana 
Yang benar yang mana ? 
Tamu ii 
Saya memanglah melacak yana, tante. 
Bu yana 
Dikarenakan main di tempat sini ? 
Tamu ii 
Tidak tante, saya memanglah sengaja kemari untuk melacak yana. Sumpah, tante. 
Pak yana 
( memotong ) suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu. 

Tamu ii masuk serta duduk di area tv. Bu yana masuk dapur. 

Tamu ii 
Nonton berita ya, om ? 
Pak yana 
Tidak, hanya tengah lihat respon wakil rakyat perihal bencana yang tidak berkesudahan. 
Tamu ii 
Itukan berita namanya, om. 
Pak yana 
Itu bukan hanya berita, itu opini. Opini itu pendapat, kebenarannya tetap belum dapat dihandalkan. Namanya berita mesti kebenaran, kenyataan. 
Tamu ii 
Namun itukan acara berita, om. 
Pak yana 
Memanglah, beritanya, wakil rakyat tengah berikan opini. 
Tamu ii 
Bermakna tengah nonton berita, om. 
Pak yana 
Tidak, saya tengah lihat opini. Ingat, opini ! 
Tamu ii 
Bedanya apa, om ? 
Pak yana 
Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga pendapat, tengah berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita. 
Tamu ii 
Bila opini ? 
Pak yana 
Kenapa kucing itu akan ditabrak ? 

Tamu ii 
Barangkali saja ia tidak lihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia telah bersimbah darah. 
Pak yana 
Itu dia opini. 
Tamu ii 
Opini ? 
Pak yana 
Ya, opini anda. Tengok omongan wakil rakyat itu, seluruhnya serba barangkali kan ? 
Tamu ii 
Lantas yang serba barangkali itu bukan hanya berita ? 
Pak yana 
Barangkali kok berita. Barangkali itu kan belum jelas tengah berita yaitu yang jelas serta tentu. 
Tamu ii 
Namun apa yang tentu di masa saat ini, om ? 
Pak yana 
Ya, opini. 

Bu yana keluar dapur membawa teh didalam gelas menuju kulkas. Membukanya. 

Tamu ii 
Tak perlu yang dingin, tante, lagi batuk. 
Bu yana 
Akan puding ? 
Tamu ii 
Bisa, tante. 
Bu yana 
Namun dingin ? 

Tamu ii 
Tidak apa-apa, tante, kan hanya puding. 

Bu yana ke area tv serta letakkan sajian lantas kembali menuju dapur. 
Pak yana 
Anda temannya yana ? 
Tamu ii 
Benar itu, om. 
Pak yana 
Rekan dari tempat mana ? 
Tamu ii 
Ya rekan saja, om, tidak dari tempat mana-mana. 
Pak yana 
Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, atau jadi dari kelas mengaji ? 
Tamu ii 
Untuk yang paling akhir tampaknya bukan hanya, om. 
Pak yana 
Kenapa ? Apa dikarenakan telah pandai mengaji ? 
Tamu ii 
Tidak om, saya non muslim. 
Pak yana 
Oh demikian, terus dari tempat mana ? 
Tamu ii 
Saya rekan yana dari area nongkrong, om. 
Pak yana 
Seingat saya yana tidak mengambil les nongkrong. 
Tamu ii 
Om, lucu juga. Area nongkrong itu area kita kumpul-kumpul, ya, arti kerennya terlibat perbincangan atau berdiskusi. 

Pak yana 
Oh demikian, namun yang nongkrong itu kan pastinya datang dari area spesifik. Nah, anda itu tak hanya rekan nongkrong yana, rekan dimana ? 
Tamu ii 
Ya tak ada, om. Saya hanya rekan yana di area nongkrong. 
Pak yana 
Terlampau tidak tebal, pertemanan itu belum demikian kuat. Hm, lantas maksud anda melacak yana ? 
Tamu ii 
Ya itu dia om, saya mau tahu perihal apa yang berlangsung dengan yana. Telah tiga hari ia tidak nampak, om. 
Pak yana 
Memangnya mengapa bila ia tidak nampak didalam tiga hari ? 
Tamu ii 
Ya itu dia, om. 
Pak yana 
Apa ? 
Tamu ii 
Ehm, dia bawa suatu hal yang mutlak, om. Suatu hal yang amat saya banggakan. 
Pak yana 
Oh demikian. Mutlak sekali ? 
Tamu ii 
Amat mutlak jadi, om. 
Pak yana 
Yana mengambilnya dari anda ? 
Tamu ii 
Begitulah om, saya jadi tidak paham bagaimana berlaku bila tak ada kabar dari yana. 

Pak yana 
Banyakkah ? 
Tamu ii 
Ya bila besar itu dikira banyak, ya, banyak om. 
Pak yana 
Begini saja, anda pulang dulu, besok anda kembali lagi. Yang anda punya itu tentu dapat kembali. 
Tamu ii 
Namun yananya bagaimana om ? 
Pak yana 
Itu urusan saya. 
Tamu ii 
Bila memanglah demikian, pastinya dengan ada kepastian dari om, saya jadi meyakini untuk datang besok. 
Pak yana 
Ya, ya, pulanglah. 

Tamu ii pergi, bu yana masuk. 

Pak yana 
Anakmu membawa lari duit temannya ? 
Bu yana 
Bagaimana dapat ? 
Pak yana 
Temannya yang datang tadi, yang terlampau banyak bicara itu, melaporkan apa yang sudah dikerjakan anakmu. 
Bu yana 
Anak kita 

Pak yana 
Ya, anak kita. Pencuri. 
Bu yana 
Belum pasti benar, janganlah terlampau banyak yakin dengan orang yang terlampau banyak bicara. 
Pak yana 
Namun bagaimana dapat kita yakin dengan orang yang sedikit bicara, dari tempat mana kita ketahui isi kepalanya bila tidak dikeluarkannya. 
Bu yana 
Terlampau banyak bicara jadi menyingkirkan kalimat kunci, kata yang semestinya dapat jadi andalan. 
Pak yana 
Tanpa bicara, keyword itu jadi tidak keluar, bagaimana dapat ia terlihat ? 
Bu yana 
Namun kenapa kau demikian yakin dengan anak ingusan yang terlampau banyak bicara itu ? 
Pak yana 
Dikarenakan tampaknya benar, telah tiga hari yana lalu tidak nampak di area biasa mereka bersua. 
Bu yana 
Bagaimana bila benar ? 
Pak yana 
Kita mesti menggantinya, tidak dapat tidak, yana kan anak kita. 
Bu yana 
Bila tidak benar ? 
Pak yana 
Akan taruhan ? 

Lampu padam 

Dua 

Lampu menyala. Didalam sesuatu rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak yana duduk memandang tv. Bu yana keluar dari kamar mandi. 

Bu yana 
Yana telah pulang, pak ? 
Pak yana 
Belum 
Bu yana 
( duduk di kursi meja makan ) bagaimana ini ? Telah empat hari ia tidak pulang. 
Pak yana 
Kelak juga pulang 
Bu yana 
Tempo hari kau jawab layaknya itu juga, tidak tempo hari saja, kemarinnya lagi serta kemarinnya lagi juga. 
Pak yana 
Terus mesti bagaimana ? Berteriak, mengabarkan pada seluruh orang bahwa anak kita yang wanita tidak pulang didalam empat hari ini. Bagaimana kata dunia ? Apa kata mereka pada kita ? Orang tua yang tidak bertanggung jawab ? 
Bu yana 
Tampaknya kita memanglah tidak bertanggung jawab. 
Pak yana 
Kok dapat ? 
Bu yana 
Lihatlah sendiri ! Apa yang kita kerjakan pada anak kita ? Empat hari, pikirkan empat hari anak kita tidak pulang, tak ada usaha kita untuk mencarinya. 
Pak yana 
Menanti juga melacak. 

Bu yana 
Menanti itu pasrah 
Pak yana 
Berbeda, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama layaknya berdoa. 
Bu yana 
Apa yang dikerjakan saat menunggu ? Diam memandang tv atau repot terlibat perbincangan tanpa tujuan ? 
Pak yana 
Bila kita ke kantor polisi serta melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita kerjakan ? Menanti kan ? Menanti kabar dari pak polisi itu. Serta saat menunggu kabar dari pak polisi, kita juga melihat tv atau terlibat perbincangan kemana senang kan ? Sama juga. 
Bu yana 
Beda 
Pak yana 
Apanya yang lain ? Bila kita menempatkan iklan perihal kehilangan, sama saja layaknya melapor ke polisi. Bila kita melacak sendiri, sama saja dengan menanti kabar kan ? Kita melacak itu tanpa tujuan, kita tidak paham dimana anak kita ada, lantas sama saja dengan 0. Kita terus juga menanti. Dari pada kita melingkari kota, pastinya habis daya, toh tambah baik kita di rumah. Seluruhnya itu bermakna menanti, melacak itu juga menanti. Menanti juga melacak. Jelas ! 
Bu yana

Menanti itu pasrah
Pak yana
Berbeda, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama layaknya berdoa.
Bu yana
Apa yang dikerjakan saat menunggu ? Diam memandang tv atau repot terlibat perbincangan tanpa tujuan ?
Pak yana
Bila kita ke kantor polisi serta melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita kerjakan ? Menanti kan ? Menanti kabar dari pak polisi itu. Serta saat menunggu kabar dari pak polisi, kita juga melihat tv atau terlibat perbincangan kemana senang kan ? Sama juga.
Bu yana
Beda
Pak yana
Apanya yang lain ? Bila kita menempatkan iklan perihal kehilangan, sama saja layaknya melapor ke polisi. Bila kita melacak sendiri, sama saja dengan menanti kabar kan ? Kita melacak itu tanpa tujuan, kita tidak paham dimana anak kita ada, lantas sama saja dengan 0. Kita terus juga menanti. Dari pada kita melingkari kota, pastinya habis daya, toh tambah baik kita di rumah. Seluruhnya itu bermakna menanti, melacak itu juga menanti. Menanti juga melacak. Jelas !
Bu yana
Pusing saya. Bila kita ketahui dimana yana ada kan gampang, dapat kita jemput.
Pak yana
Itu dia kata yang pas. Menjemput. Menjemput itu jelas lain dengan melacak atau juga menanti.
Bu yana
Namun kita tidak paham dimana yana ada ?

Pak yana
Yah mesti dicari
Bu yana
Dengan ?
Pak yana
Ya menanti.

Terdengar ketukan pintu

Pak yana
Bagaimana ini, ini tentu rekan yana yang banyak bicara tempo hari itu.
Bu yana
Yang uangnya yana curi itu ?
Pak yana
Bagaimana ini, apa yang perlu kita kerjakan.
Bu yana
Kita bayar saja
Pak yana
Namun kita belum ketemu yana, mungkin berita ini tidak benar.

Terdengar ketukan pintu

Bu yana
Bila belum benar, janganlah dibayar dulu
Pak yana
Namun kita belum tahu mana yang benar. Mengapa yana belum pulang juga.

Terdengar ketukan pintu
Bu yana
Bagaimana bila dia datang dengan polisi.

Terdengar ketukan pintu
Pak yana
Bukahlah pintu
Bu yana
Kau saja
Pak yana
Kau kan perempuan
Bu yana
Kau kan laki-laki
Pak yana
Wanita duluan, atas nama kesopanan.

Terdengar ketukan pintu

Bu yana
( teriak ke arah pintu masuk ) sebentar ya.
Pak yana
Bukalah pintunya ( lari kecil menuju depan tv, seakan-akan tidak berlangsung suatu hal )

Pintu terbuka. Bu yana bingung.

Tamu i
Maaf tante, yananya telah pulang ? Belum ya ? Ya sudahlah, kelak saya datang lagi. Terima kasih tante. Tolong kelak bila yana pulang, katakan saja saya melacak serta dapat kembali lagi. Permisi tante. ( pergi menghilang )

Pak yana
Suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu.
Bu yana
Telah pulang ( menutup pintu serta jalan menuju area tv ) tamunya telah pulang.
Pak yana
Tukang pos ?
Bu yana
Bukan hanya, temannya yana ?
Pak yana
Yang tempo hari ?
Bu yana
Ya
Pak yana
Terus dia menagih uangnya ? Apa yang kau katakan sampai dia segera pulang.
Bu yana
Saya tidak katakan apa-apa serta dia bukan hanya yang uangnya dicuri yana.
Pak yana
Lantas rekan yang mana ?
Bu yana
Yang pertama datang, yang lupa kutanyakan namanya.
Pak yana
Telah tahu kau namanya ?
Bu yana
Belum, dia terlampau buru-buru. Belum pernah saya bicara dia telah pergi.
Pak yana
Tampaknya dia memanglah senantiasa buru-buru. Tunggulah dulu, siapa nama rekan yana yang banyak bicara itu ?

Bu yana
Mengapa kau tanyakan saya, bukankah kau yang banyak bicara dengannya ? Semestinya kau tanyakan namanya. 
Pak yana
Itu dia, dia terlampau berlama-lama hingga saya lupa bertanya, walau sebenarnya saya telah berhadapan segera dengannya.
Bu yana
Sudahlah. Sekurang-kurangnya bukan hanya dia yang datang lantas kita tak perlu kuatir lagi.
Pak yana
Untuk sementara
Bu yana
Walau sesaat, sekurang-kurangnya tidak kuatir.

Lampu padam

Tiga

Lampu menyala. Didalam sesuatu rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Bu yana duduk memandang tv. Pak yana keluar dari kamar mandi.

Pak yana
Telah nyaris sore, hari keempat sejak tidak pulang, apakah yana tak lagi pulang lagi ?
Bu yana
Belum lima hari
Pak yana
Nyaris lima hari, lihatlah telah mendekati senja. Bila matahari terbenam serta terbit lagi, pas lima hari yana tidak pulang. Apakah bekal larinya tetap cukup ?
Bu yana
Kenapa kau cemas ?
Pak yana
( menuju pintu keluar masuk rumah, membukanya, menegok keluar serta menutupnya kembali ) belum pulang juga.

Terdengar ketukan pintu. Pak yana segera buka. Tersenyum suka.

Pak yana
Pulang juga rupanya kau yana
Yana
Lapar ( jalan menuju dapur, keluar lagi sembari membawa piring makanan, makan di meja makan. )

Bu yana
( mendekat serta segera duduk di samping yana ) makanlah yang banyak, pastinya kau lapar.
Pak yana
( mendekat serta segera duduk di samping yana ) dari tempat mana saja ?
Bu yana
Janganlah ditanyakan dulu, biarlah dia makan dengan tenang. Telah nyaris lima hari dia ada di luar, rindu dengan rumah ini pastinya.
Pak yana
Banyak temanmu yang datang.
Bu yana
Janganlah dikatakan dulu, agar dia makan dengan nyaman, telah lima hari dia di luar, banyak bersua orang pastinya, semakin banyak dari kawannya yang datang. ( jalan menuju kulkas serta mengeluarkan botol air dingin, menuangkan ke gelas yana ) dari tempat mana saja kau yana ?
Pak yana
Mengapa kau tanyakan ?
Yana
Dari rumah rekan ( terus makan )
Pak yana
Temanmu yang mana ? Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, kelas mengaji, atau jadi rekan nongkrong ?
Bu yana
Ya, yang mana ?
Yana
Rekan lain
Pak yana
Tetap ada temanmu yang lain rupanya.
Bu yana
Rekan yang mana ?

Yana
Mengapa terlampau mengurusi sih ? Bukannya sepanjang ini saya bebas, layaknya yang kalian kehendaki. Kenapa kalian ajukan pertanyaan saat saya menghilang, kenapa tidak melacak ? Lantas, apakah kalian dulu bertanya saya sekolah apa tidak ? Serta, untuk apa les yang mahal-mahal itu, bukan hanya untukku kan ? Untuk kalian yang gila gengsi tanpa memikirkan kebutuhanku kan ? ( berdiri, membawa makanan, duduk di depan tv sembari terus makan. )
Pak yana
( berbisik ) bagaimana ini ?
Bu yana
( berbisik juga ) bagaimana apanya ?
Pak yana
Dia terlampau tertutup, kita mesti dapat membukanya. Kenapa kita yang disalahkan ? Kita kan cuma bertanya temannya saja. ( mendekati yana ) enak makannya ?
Yana
Biasa saja
Bu yana
( mendekati yana ) pastinya enak, ibu sengaja masak buat kamu.
Yana
Sejak kapan masak spesial ? ( jalan menuju dapur, masuk ke dalamnya )
Bu yana
( berbisik ) tidak sukses. Tampaknya dia memanglah marah pada kita.
Pak yana
( berbisik juga ) kita mesti lebih berupaya lagi.

Yana keluar dari dapur tanpa membawa sebarang lalu. Bu yana serta pak yana mendekat, persisi menghambat jalur yana yang tetap ada di depan pintu.

Pak yana
Telah selesai makannya ?
Bu yana
Enak kan ? Tentu kenyang.
Yana
( menghindar serta jalan menuju kamar tidur ) akan tidur
Pak yana
( mengejar sampai depan pintu kamar tidur ) belum malam
Bu yana
( turut mengejar ) iya, belum malam, mari kita terlibat perbincangan dulu.

Yana masuk kamar. Pintu tertutup. Bu yana serta pak yana duduk di kursi meja makan.

Bu yana
Apa karena dia demikian dingin
Pak yana
Barangkali kita terlampau kaku
Bu yana
Kau yang kaku
Pak yana
Barangkali kau juga.

Terdengar ketukan pintu

Pak yana
Tentu temannya yang banyak bicara itu, yang uangnya dicuri yana, bagaimana ini ? Kita belum bicara perihal itu dengan yana.
Bu yana
Barangkali temannya yang lain.

Terdengar ketukan pintu
Bu yana
Kau saja yang buka, terserah itu melangkahi kesopanan.
Pak yana
( malas buka pintu, sampai hingga depan pintu, menoleh ke bu yana dengan bingung ) baiknya kau saja.

Terdengar ketukan pintu. Pak yana terperanjat serta segera buka pintu. Makin terperanjat lihat tamu yang datang.

Tamu ii
Terperanjat, om.
Pak yana
( gagap ) tidak, tidak. Ayo masuklah.

Bu yana menyingkir ke dapur. Pak yana serta tamu ii duduk menghadap tv.

Tamu ii
Saya tidak kebetulan main ke tempat sini, om. Saya spesial datang layaknya keinginan, om, tempo hari itu. Lantas terasa tak perlu basa-basi lagi…
Pak yana
( memotong ) basa-basi itu kadang-kadang butuh. Ayolah berbasa- basi.
Bu yana
( nampak membawa segelas minuman hangat ) iya, mengapa mesti segera bila kita dapat berbasa-basi terlebih dulu.
Tamu ii
Wah, tampaknya dapat ada lampu hijau nih.
Pak yana
Bukan sekedar bisa segera jalur, ini jalur tol lantas dapat sekencang apa juga.

Tamu ii
Bisa ngebut ?
Pak yana
Oh pasti, asal gunakan pengaman agar tidak kecelakaan.
Tamu ii
( tertawa ) ini dia calon mertua yang sangat hebat.
Bu yana
Mertua ?
Pak yana
Ada apa dengan mertua ?
Tamu ii
( bingung ) tuturnya bisa segera ngebut ?
Pak yana
( bingung juga ) tunggulah dulu. Begini saja, kita buang dulu basa-basi. Apa maksudnya ini ? Mertua serta ngebut, hubungannya apa ?
Tamu ii
Loh, bukankah telah jelas om, ini masalah suatu hal yang saya punyai itu, yang dibawa yana.
Bu yana
Ya terus.
Tamu ii
Bukankah hari ini dapat saya dapatkan lagi, layaknya janji om tempo hari.
Bu yana
Duit kan ?
Pak yana
Ya, berapakah yang dicuri dari anda ?
Bu yana
Problem besarnya tak perlu kuatir, kami dapat bayarkan seluruhnya, bagaimanapun yana itu anak kami, lantas mustahil kami membiarkannya mengambil duit anda.

Pak yana
Ya benar itu.
Bu yana
Tunggulah dulu, agar seluruhnya jelas ( jalan menuju kamar yana ) yana ! Keluar anda, nak.
Tamu ii
Tunggulah dulu, tante…
Bu yana
Tenang, agar jelas saja.
Tamu ii
Tapi…
Pak yana
Tenang saja
Bu yana
Yana !
Yana
( keluar dengan muka jemu, jadi tambah jemu demikian lihat tamu ii ) ada apa ?
Bu yana
Ayo, ada yang perlu kita kerjakan. ( menggiring yana ke depan tv )
Tamu ii
( tersenyum manis ) hai len.
Yana
( senyum masam ) ada apa ?
Pak yana
Tenang, enjoy seluruhnya. Begini, baiknya kita cari info yang sesungguhnya. Bu, kau saja yang bicara.
Bu yana
Yana, rekan anda ini tempo hari telah datang, namun dikarenakan anda belum pulang, kami suruh dia datang saat ini. Nah, dia ini datang untuk menghendaki suatu hal yang anda bawa, begitulah.

Pak yana
Ya, dengan kata lain ia datang untuk menagih suatu hal yang sudah kau curi. Nah, berapakah jumlahnya, nak, berapakah yang kau ambillah darinya.
Tamu ii
( panik ) tunggulah dulu…
Pak yana
Telah anda janganlah bicara dulu. Berapakah yana ?
Yana
( bingung ) yana tidak mengambil apa-apa. Hey ( menunjuk tamu ii ) anda janganlah sembarangan menuduh saya pencuri ya ! Hingga datang ke rumah lagi !
Bu yana
Sabar nak, tenang. Katakan saja jumlahnya, agar kita ubah. Janganlah takut kami marah. Sungguh kami tak lagi marah.
Pak yana
Ya katakan saja, agar seluruhnya jelas.
Yana
Ahk, bagaimana ini ! Yana tidak mengambil, sumpah. Tanyakan saja sama dia. ( duduk dengan sewot )
Tamu ii
Waduh, bagaimana ini, mengapa dapat kacau. Begini saja, om, saya permisi, anggap saja tidak berlangsung apa-apa. ( bergerak pergi )
Pak yana
( menahan ) bagaimana anda ini, bukannya anda pingin mengambil yang sudah dicuri yana ?
Tamu ii
Sudahlah om, tidak apa-apa, biarlah saja.
Bu yana
Tidak dapat demikian. Begini saja, berapakah yang dicuri yana ?
Yana
Ya berapakah yang kucuri ! Cepat katakan !

Tamu ii
( takut ) tak ada…
Pak yana
Apa !
Tamu ii
Yana tidak mengambil duit, om. Sejak tadi serta jadi tempo hari saya telah pingin terangkan namun om tidak ingin mendengar. Saya pikir om telah tahu dengan yang saya maksud.
Pak yana
Kok jadi menyalahkan.
Tamu ii
Benar, om. Saya telah cobalah terangkan. Yana tidak mengambil duit tapi…
Bu yana
Namun apa ? Hp, perhiasan, atau apa ?
Tamu ii
Bukan hanya itu tante.
Bu yana
Lantas apa ? Bicara yang jelas !
Tamu ii
( malu ) yana mengambil hati saya, tante. Dengan kata lain, saya itu suka sama yana namun yananya belum berikan jawaban.

Terdengar ketukan pintu. Seluruhnya terperanjat.

Pak yana
Siapa lagi itu, bukalah pintunya, yana anda yang buka.

Pintu terbuka. Yana tertawa.
Yana
Saya baru saja pulang, anda bolak-balik ya melacak saya ?

Tamu i 
Kurang ajar, bila utang cepat bayar dong ! 
Yana 
Ala, gitu saja sewot. 
Pak yana 
Suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu. 
Bu yana 
Siapa len ? 
Yana 
Teman 
Bu yana 
Bawa temanmu ke didalam, tidak baik terus di depan pintu. 
Tamu i 
Terima kasih tante, disini saja. 
Pak yana 
Masuklah, agar saling bersua seluruhnya. 
Yana 
Ayolah masuk 
Tamu i 
Bayar dulu utangmu, ini urusan kita berdua. 
Yana 
Iya, kelak didalam. 
Tamu i 
Tapi… 
Yana 
Tak ada alasan ( menggandeng tamu i ) 

Seluruhnya berkumpul di depan tv 

Bu yana 
Oh, rupanya anda. Len, temanmu ini bolak-balik melacak anda. 
Tamu i 
Maaf tante, merepotkan. 
Pak yana 
Ah, tak ada apa-apa. Mengapa tampak demikian mutlak, ada apa ini ? 
Tamu i 
Tak ada apa-apa, om, hanya sebatas singgah. 
Pak yana 
Bila hanya sebatas bermakna tidak berulang, benar tidak ? 
Tamu ii 
Bila demikian saya pulang lebih dulu saja, om. 
Pak yana 
Anda disini dulu, problem yang tadi belum selesai. 
Yana 
Problem apa lagi ? 
Bu yana 
Yana, anda kan belum mengembalikan duit yang anda curi dari dia. 
Tamu i 
Anda mengambil duit, len ? 
Tamu ii 
Tidak… tidak, wah serba salah seluruhnya. 
Pak yana 
Sudahlah, mari kita kerjakan. Yana, katakan saja berapakah yang kau ambillah dari dia ? 
Yana 
( marah ) mengapa tidak ada yang yakin ! Yana tidak dulu mengambil uangnya ! 
Tamu ii 
Iya, om. Yana tidak mengambil duit saya. 

Yana 
Dengar itu ! Yana tidak dulu mengambil ! Yana hanya meminjam duit. 
Tamu ii 
Kapan ? 
Yana 
Bukan hanya anda ! 
Tamu i 
Tidak, om. Tidak, tante. Yana tidak dulu meminjam duit. 
Yana 
Hey ! 
Pak yana 
Tunggulah dulu, ada apa ini ? 
Bu yana 
Ya, yang benar yang mana ? Mengambil atau meminjam, lantas duit siapa yang dicuri atau dipinjam ? 
Tamu i 
Bukan hanya duit saya. 
Yana 
Hey ! 
Tamu ii 
Telah jelas, saya tak ada hubungan dengan duit. Layaknya yang telah terkatakan tadi, hati saya yang dicuri. 
Bu yana 
Bermakna duit anda ? Berapakah ? 
Tamu i 
Tak ada, tante. 
Yana 
Hey ! Janganlah bohong anda. Saya pinjam duit anda sekian hari yang lantas sebagai bekal lari dari rumah. Serta, bukankah anda datang kemari untuk menagihnya ? 

Bu yana 
Bekal lari ? 
Pak yana 
Lari dari tempat mana, nak ? 
Yana 
Tengok, lihatlah orang tuaku ini kawan-kawan. Saya lari dari rumah lalu mereka tidak paham. Yang mereka pikirkan seluruh baik-baik saja. Saya benci ! ( marah mendekati menangis ) 
Tamu i 
Saya tidak paham, saya pinjami anda duit bukan hanya karenanya. Bila saya tahu anda pinjam duit untuk lari, saya tidak beri pastinya. 
Tamu ii 
Anda lari dari rumah ? Mengapa tidak katakan padaku, len. Saya, ah… 
Tamu i 
Mengapa, anda akan membantunya lari kan ! 
Yana 
Diam kalian ! Kalian ( memandang orang tua ) lihatlah anak kalian ini ! Apakah kalian hafal tiap-tiap tahi lalatnya ? Apa kalian tahu yang diinginkannya ? Pandang saya melewati mataku janganlah pandang saya dengan mata kalian ! 
Bu yana 
Mengapa anda mesti lari, nak. Bukankah hidup di luar itu lebih beresiko. 
Pak yana 
Bila memanglah pingin lari, anda kan dapat permisi dulu, tak perlu anda pinjam duit kawan. 
Yana 
Ini bukan hanya piknik…( menangis ) 

Bu yana serta pak yana segera mendekati yana. 

Tamu i 
( menarik tamu ii ke sudut lain ) urusan keluarga, baiknya kita menyingkir. 
Tamu ii 
Kita mesti permisi dulu 
Tamu i 
Bila situasinya layaknya ini, baiknya tak perlu. 
Tamu ii 
Uangmu… 
Tamu i 
Sudahlah… 

Tamu i serta tamu ii pergi dengan cepat. Tangis yana makin jadi. 

Pak yana 
Diamlah, janganlah menangis. Duit yang anda pinjam dapat kita ubah. ( mengerti tamu i serta tamu ii sudah hilang ) bagaimana ini, mereka sudah hilang. Uangnya belum kita ubah. 
Yana 
( sembari menangis ) bukan hanya uang… 
Pak yana 
Bila demikian kenapa menangis ? 
Bu yana 
Diamlah, janganlah menangis terus. Kami bingung, len. Ceritalah, nak. 
Yana 
Yana tidak pulang sepanjang ini dikarenakan yana jadi tidak punya rumah. 
Bu yana 
Tidak punya rumah ? 

Yana 
Ya, rumah ini segala nya dihitung dengan duit, tak ada perbincangan yang menyenangkan. Kalian repot serta yana lalu repot sendiri. Tak ada yang cermati. Yana benci. Yana perlu rumah yang betul-betul rumah ! 
Bu yana 
( menangis ) maaf ya, nak. Barangkali sepanjang ini kami tidak mencermati anda, seluruhnya senantiasa dihitung dengan duit. Rumah ini rumah anda, rumah yang kami bebaskan untukmu, kami tidak mau mengekang, kami rasa itu yang baik. 
Pak yana 
Membebaskan anda bukan hanya bermakna tidak perhatian. Dulu kami dikekang orang tua kami serta kami tidak senang, maka kami pingin anda tidak layaknya kami. 
Yana 
( lari masuk kamar ) semestinya kalian lantas orang tua yang betul-betul orang tua ! 
Musik perlahan, sahydu demikian merasa. Bu yana terus menangis. 
Bu yana 
Kita salah mendidiknya… 
Pak yana 
Sesungguhnya kita bermaksud baik, namun salah juga… 
Bu yana 
Kita mesti bagaimana ? Membebaskannya salah, mengekangnya juga dapat salah… 
Terdengar ketukan pintu 
Bu yana 
Siapa lagi ? 
Terdengar ketukan pintu. Pak yana menuju pintu serta membukanya. 
Bu yana 
Siapa lagi ? 

Selesai

Contoh naskah drama lainnya :

Like / bagikan artikel :

Artikel terkait: